
Pasar kripto kembali berada dalam tekanan setelah gelombang aksi jual menghapus kenaikan harga pada akhir pekan lalu. Sentimen investor turun ke level extreme fear, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di tengah volatilitas yang tinggi.
Tekanan ini dipicu oleh kombinasi aksi jual dari sejumlah pelaku besar serta penyesuaian posisi di pasar derivatif yang membuat trader dengan leverage tinggi terdampak signifikan.
Likuidasi $200 Juta dalam Satu Jam
Di pasar derivatif, posisi long senilai sekitar $200 juta terlikuidasi hanya dalam waktu satu jam, sebagaimana dilaporkan oleh Watcher.Guru. Pergerakan harga yang cepat memicu margin call beruntun dan mempercepat tekanan jual.
Sejalan dengan itu, harga Bitcoin terkoreksi dan menghapus sebagian besar kenaikan sebelumnya, sehingga menyeret pasar kripto secara keseluruhan. Indeks Fear & Greed kembali turun ke zona Fear, menandakan meningkatnya sikap defensif dari investor ritel maupun institusi.
Aksi Jual dari Pelaku Besar
Beberapa transaksi on-chain turut menjadi perhatian pasar:
1. Vitalik Buterin mengurangi eksposur ETH
Data dari Arkham Intelligence menunjukkan dompet yang dikaitkan dengan salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, melakukan penukaran Wrapped Ethereum (WETH) ke sejumlah stablecoin seperti EUROC, LUSD, PYUSD, GHO, dan USDTB melalui CoW Protocol. Transaksi ini terjadi saat harga ETH berada di kisaran $1.864.
Meski demikian, Buterin tetap aktif mendorong pengembangan teknis Ethereum, termasuk gagasan intent-based security yang bertujuan meningkatkan keamanan smart contract dan pengalaman pengguna.
2. Bitdeer menjual 943 BTC
Perusahaan penambangan Bitcoin, Bitdeer, juga dilaporkan melepas 943 BTC. Langkah ini membuat posisi perusahaan dalam daftar pemegang cadangan Bitcoin terbesar menurun. Aksi tersebut dipandang sebagai upaya manajemen risiko dan penguatan likuiditas di tengah kondisi makro yang belum stabil.
Dinamika Regulasi: Stablecoin dan Clarity Act
Di sisi regulasi, perhatian pemerintah AS terhadap industri kripto semakin meningkat, khususnya terkait stablecoin.
Gedung Putih kembali menggelar pertemuan terkait kebijakan kripto, sementara SEC menerapkan aturan baru bagi broker-dealer yang menangani stablecoin, termasuk kewajiban penyesuaian nilai aset sebesar 2%. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan persyaratan modal dan memperketat pengelolaan aset digital berbasis fiat.
Di tengah tekanan tersebut, CEO Ripple, Brad Garlinghouse, menyampaikan optimisme terhadap peluang pengesahan RUU “Clarity Act”. Ia menilai kemungkinan pengesahan cukup tinggi dan dapat memberikan kepastian hukum yang selama ini dinantikan pelaku industri kripto di Amerika Serikat.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan sentimen yang cenderung defensif. Kombinasi tekanan harga, aksi pelaku besar, serta ketidakpastian regulasi membuat volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.


%201.png)