
Pasar kripto memasuki awal Februari dengan volatilitas tinggi. Di satu sisi, masih ada sinyal akumulasi dari pelaku institusional, tetapi data on-chain menunjukkan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda. Bitcoin (BTC) berupaya mempertahankan fase pemulihan, sementara sebagian besar altcoin masih berada dalam kondisi tekanan.
Bitcoin: Area $70.000 Masih Diuji
Bitcoin sempat kembali diperdagangkan di atas $70.000, level psikologis penting yang kini menjadi area pertahanan utama. Sejumlah analis tetap mempertahankan proyeksi jangka panjang hingga $180.000, dengan asumsi bahwa koreksi sebelumnya telah mengurangi posisi spekulatif berlebihan dan memperbaiki struktur pasar.
Beberapa investor berpendekatan contrarian menilai penurunan ke area $60.000 sebagai potensi dasar siklus. Sentimen memang sempat berada di level rendah, tetapi belum ada konfirmasi kuat bahwa tekanan jual telah sepenuhnya berakhir.
Dari sisi suplai, tekanan masih muncul. Cango melepas sekitar 4.451 BTC senilai kurang lebih $305 juta untuk mendanai pergeseran bisnis ke komputasi AI. Sebaliknya, MicroStrategy kembali menambah kepemilikan BTC sebanyak 1.142 BTC, meskipun posisi mereka masih mencatat kerugian belum terealisasi lebih dari $5 miliar. Binance juga menambah cadangan BTC senilai $300 juta untuk dana SAFU.
Altcoin: Tekanan Masih Mendominasi
Tekanan di pasar altcoin relatif lebih berat. Ethereum (ETH) sempat turun ke bawah $2.000 sebelum kembali stabil di atas level tersebut. Aktivitas on-chain menunjukkan lonjakan pergerakan token, yang secara historis sering muncul saat fase distribusi atau kapitulasi jangka pendek.
XRP menunjukkan kondisi yang tidak sepenuhnya sejalan antara fundamental dan perilaku pasar. Di sisi pengembangan, Ripple memperluas layanan kustodi institusional dengan tambahan fitur staking dan peningkatan keamanan. Namun, data Glassnode menunjukkan peningkatan realisasi kerugian di jaringan XRP.
Metrik Spent Output Profit Ratio (SOPR) XRP turun ke 0,96, mengindikasikan bahwa sebagian besar koin yang dipindahkan dijual dalam kondisi rugi. Glassnode mencatat bahwa tekanan ini memicu likuidasi lanjutan, pola yang sebelumnya juga terlihat pada fase konsolidasi panjang antara September 2021 hingga Mei 2022. Secara historis, fase seperti ini kerap menjadi bagian dari proses penyesuaian pasar sebelum volatilitas mereda.
Sementara itu, Solana (SOL) masih berada dalam struktur teknikal yang lemah. Beberapa analis teknikal memperingatkan potensi pengujian ulang area $50 jika tekanan jual berlanjut dan support saat ini gagal bertahan.
Slow Money dan Perkembangan Agen AI
Dari sisi makro, analis Lyn Alden menilai The Fed cenderung menerapkan pendekatan “slow money”, yaitu pengetatan likuiditas yang berlangsung lebih lama dan bertahap, bukan melalui kebijakan yang bersifat mendadak.
Di sisi teknologi, kemunculan agen AI otonom mulai terlihat di beberapa jaringan blockchain. Agen ini menggunakan kripto untuk transaksi secara otomatis dan dalam volume besar. Meski membuka potensi use case baru, aktivitas tersebut dilaporkan mulai menimbulkan beban tambahan pada jaringan, termasuk peningkatan kemacetan dan friksi operasional.


%201.png)