
Pemerintah Amerika Serikat memasuki hari keempat penutupan parsial akibat kebuntuan anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Arah kebijakan fiskal kini bergantung pada pemungutan suara final di DPR AS yang dipimpin oleh Speaker Mike Johnson, yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 Februari 2026 waktu setempat.
Kebuntuan ini berakar pada perdebatan pendanaan operasional perbatasan. Jika voting disetujui, sejumlah layanan publik seperti pemrosesan pinjaman SBA dan operasional bandara diperkirakan kembali normal. Namun, kegagalan kesepakatan berpotensi memperpanjang ketidakpastian fiskal dan menekan kepercayaan investor terhadap stabilitas dolar AS. Kondisi ini membuat pasar global berada dalam mode wait-and-see.
Dari Safe Haven ke Likuiditas Digital: Transformasi Emas
Di tengah ketidakpastian makro, emas kembali menjadi sorotan—namun dengan peran yang semakin berevolusi. Tahun 2026 menandai percepatan transisi emas dari aset simpanan pasif menjadi instrumen finansial yang lebih dinamis melalui tokenisasi Real-World Assets (RWA).
Emas yang berada di atas blockchain kini dapat digunakan secara instan sebagai kolateral di ekosistem DeFi, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan emas fisik tradisional. Kolaborasi antara Tether dan Opera menjadi katalis penting dengan menghadirkan emas digital (XAUt) ke dalam dompet MiniPay, membuka akses lindung nilai bagi jutaan pengguna di pasar berkembang untuk melindungi daya beli dari inflasi mata uang lokal.
Validasi Ekonomi Digital: AI, Saham AS, dan Infrastruktur
Di saat ketidakpastian politik membayangi Washington, sektor ekonomi digital justru menunjukkan sinyal ketahanan. Palantir Technologies mencatat lonjakan pendapatan kuartal IV sebesar 70%, didorong oleh adopsi luas platform Artificial Intelligence Platform (AIP) di sektor swasta.
Dengan margin operasional mencapai 41%, Palantir semakin dipandang sebagai tulang punggung data untuk sektor komersial, bukan sekadar penyedia perangkat lunak bagi pemerintah. Kinerja ini membantu memisahkan perusahaan AI berbasis fundamental kuat dari sekadar narasi “AI hype”, sekaligus menegaskan bahwa monetisasi AI telah memasuki fase yang lebih matang.
Pasar Kripto: Koreksi Harga dan Penguatan Fondasi
Pasar kripto saat ini mengalami fase koreksi tajam yang ditandai oleh long squeeze, terutama pada Ethereum (ETH) yang sempat turun ke area $2.300 dan memicu likuidasi posisi long lebih dari $1,1 miliar. Penurunan ini disertai dengan kontraksi volume perdagangan global ke level terendah sejak 2024, mengindikasikan keluarnya spekulasi ritel berlebihan.
Meski volatilitas harga meningkat, adopsi infrastruktur justru terus menguat. Studi terbaru menunjukkan hampir 40% pedagang di AS telah menerima pembayaran kripto, menandakan transformasi aset digital dari instrumen spekulatif menjadi bagian dari sistem pembayaran yang lebih efisien dan transparan.
Institusi dan Altcoin: Seleksi Semakin Ketat
Di tengah tekanan harga aset digital, investor institusional menunjukkan pendekatan yang semakin selektif. Ark Invest dilaporkan menambah eksposur pada saham infrastruktur digital seperti BitMine saat valuasi tertekan, sembari mengambil keuntungan pada platform perdagangan ritel setelah reli signifikan.
Di sisi altcoin, dinamika pasar menunjukkan kontras yang tajam. River Protocol (RIVER) mengalami tekanan besar pasca unlock token senilai $638 juta, menegaskan risiko event-driven seperti token unlock. Sementara itu, MYX Finance (MYX) mencatat momentum positif setelah peluncuran V2 Upgrade dan ekspansi ke jaringan non-EVM, meski analis fundamental mengingatkan adanya ketimpangan antara valuasi token dan pendapatan protokol.
Kesimpulan
Dari krisis fiskal di Washington hingga percepatan ekonomi digital melalui AI, emas tokenized, dan infrastruktur kripto, pasar global saat ini berada dalam fase transisi penting. Ketidakpastian jangka pendek terus membayangi, namun arah jangka panjang semakin jelas: ekonomi digital kian terintegrasi ke dalam sistem keuangan global.


%201.png)