
Pasar keuangan global pada awal tahun 2026 mencatat fenomena divergensi aset yang tajam. Di satu sisi, emas dan perak terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, sementara di sisi lain, pasar aset digital menghadapi tekanan likuiditas yang signifikan. Fenomena ini menantang tesis investasi jangka panjang yang selama ini melabeli Bitcoin sebagai "emas digital".
Meskipun volatilitas harga menekan valuasi aset kripto, fundamental infrastruktur teknologi blockchain justru menunjukkan penguatan melalui ekspansi strategis Ripple di Timur Tengah dan dominasi jaringan Tron dalam lalu lintas stablecoin global.
Divergensi Makro: Flight-to-Safety Menuju Safe Haven
Data pasar terbaru mengindikasikan adanya pergeseran preferensi risiko investor (risk appetite). Berdasarkan laporan dari firma analitik Santiment, kapitalisasi pasar stablecoin global menyusut sebesar US$2,24 miliar dalam periode 10 hari terakhir. Penurunan ini menjadi indikator utama bahwa investor tidak sedang melakukan narasi buying the dip.
Rotasi modal ini berkorelasi langsung dengan lonjakan harga emas yang telah menembus level psikologis US$5.000 per ons. Robert Kiyosaki, penulis buku keuangan terkemuka, mempertegas sentimen bullish terhadap komoditas ini pasca-penembusan rekor tersebut. Kiyosaki memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$27.000 dalam jangka panjang, didorong oleh kekhawatiran atas utang global dan devaluasi mata uang fiat.
Menariknya, tren akumulasi emas juga dilakukan oleh pelaku industri kripto sendiri. Penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, dilaporkan telah mendiversifikasi cadangannya dengan pembelian 27 metrik ton emas pada kuartal IV-2025.
Bitcoin Sebagai Aset Risk-On
Koreksi harga Bitcoin yang mencapai hampir 30% dari puncaknya pada Oktober 2025 (kini diperdagangkan di kisaran US$88.000) memicu perdebatan di kalangan analis mengenai korelasi aset tersebut.
Dalam siklus ekonomi saat ini, Bitcoin berperilaku sebagai "ekuitas dengan beta tinggi" (high-beta equity), bukan sebagai aset lindung nilai (hedging) layaknya emas. Bitcoin dinilai sangat sensitif terhadap likuiditas global. Pengetatan likuiditas yang dipicu oleh kebijakan bank sentral, termasuk kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang memicu unwinding pada perdagangan carry trade Yen.
Konsensus pasar menunjukkan bahwa pemulihan harga aset kripto baru akan terjadi jika kapitalisasi pasar stablecoin kembali menunjukkan tren ekspansif, yang menandakan masuknya kembali likuiditas segar ke pasar.
Ekspansi Ripple dan Dominasi Tron
Di tengah tekanan pada valuasi pasar sekunder, adopsi teknologi ledger terdistribusi (DLT) oleh institusi keuangan terus berlanjut tanpa hambatan.
1. Kemitraan Strategis Ripple dan Visi Saudi 2030
Ripple Labs mengumumkan kemitraan strategis dengan Jeel, lengan inovasi dari Riyad Bank, salah satu institusi perbankan terbesar di Arab Saudi. Kerja sama ini difokuskan untuk mendukung agenda Saudi Vision 2030, dengan target integrasi teknologi blockchain untuk pembayaran lintas batas, kustodial aset digital, dan tokenisasi aset riil. Langkah ini menandakan integrasi blockchain yang semakin dalam ke dalam arsitektur perbankan formal di Timur Tengah.
2. Tron Menguasai Ekonomi Stablecoin
Laporan kuartal IV-2025 dari CoinDesk, Messari, dan Arkham Intelligence mengonfirmasi posisi jaringan Tron sebagai tulang punggung transaksi stablecoin global.
- Dominasi Pasokan: Jaringan Tron kini menampung lebih dari US$83 miliar dalam bentuk USDT, menjadikannya settlement layer terbesar untuk Tether.
- Volume Transaksi: Volume transaksi harian di jaringan Tron mencapai rata-rata US$20 miliar.
- Fokus Regional: Aktivitas jaringan sangat terkonsentrasi di pasar Asia, dengan volume tahunan mencapai US$341 miliar. Data ini menegaskan bahwa utilitas utama jaringan telah bergeser dari spekulasi menjadi alat pembayaran dan penyelesaian transaksi di pasar negara berkembang.


%201.png)