Inflasi dan Daya Beli: Kenapa Uang Mengendap Tetap Berisiko?

Rp100.000 yang tahun lalu cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, sekarang mungkin mengharuskan kita mengurangi satu atau dua barang. Perubahannya tidak selalu terasa besar dalam sekali belanja, tapi kalau terjadi terus-menerus, dampaknya mulai terlihat pada pengeluaran bulanan.
Itulah cara inflasi memengaruhi daya beli: nominal uang tetap sama, tapi kemampuannya untuk membeli barang dan jasa perlahan berkurang.
Poin Penting
- Inflasi Indonesia Juli 2026 tercatat 2,88% year-on-year, masih dalam kisaran sasaran BI sebesar 2,5% ±1%.
- Uang yang disimpan tanpa pertumbuhan tetap kehilangan daya beli. Rp10 juta hari ini bernilai sekitar Rp9,72 juta dalam setahun dan Rp8,68 juta dalam lima tahun, dihitung dalam nilai hari ini.
- Inflasi nasional adalah rata-rata, bukan pengalaman pribadi. Pola pengeluaran tiap orang beda, jadi dampak riilnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari angka BPS.
- Dana darurat dan kebutuhan rutin tetap harus likuid. Yang perlu dipikirkan ulang adalah dana jangka panjang yang dibiarkan mengendap tanpa tujuan.
- Kripto adalah salah satu pilihan untuk sebagian dana jangka panjang, bukan pengganti tabungan, dan tetap membawa risiko volatilitas yang jauh lebih tinggi dari inflasi itu sendiri.
Uangnya Tetap Ada, Daya Belinya yang Berubah
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan. Artinya, secara umum, harga barang dan jasa naik 2,88% dibandingkan Juli 2025. Angka ini masih berada dalam kisaran sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5% ±1% yang ditetapkan Bank Indonesia. (BPS, Bank Indonesia)
Angka 2,88% terdengar kecil, tapi dampaknya lebih mudah dipahami dalam rupiah. Kebutuhan yang hari ini bisa dipenuhi dengan Rp10 juta, setahun kemudian butuh sekitar Rp10.288.000 untuk membeli barang dan jasa yang sama. Sebaliknya, kalau Rp10 juta itu hanya disimpan tanpa menghasilkan pertumbuhan apa pun, jumlahnya memang tetap Rp10 juta, tapi daya belinya dalam nilai hari ini turun jadi sekitar Rp9,72 juta.
Uangnya tidak hilang. Hanya saja, lebih sedikit yang bisa dibeli.
Simulasi Daya Beli Rp10 Juta yang Hanya Disimpan
Kalau inflasi bertahan di 2,88% per tahun, berikut proyeksi daya beli Rp10 juta dalam nilai hari ini kalau dana itu hanya disimpan tanpa pertumbuhan:
| Tahun ke- | Nilai Nominal | Daya Beli dalam Nilai Hari Ini |
|---|---|---|
| 0 | Rp10.000.000 | Rp10.000.000 |
| 1 | Rp10.000.000 | Rp9.720.062 |
| 3 | Rp10.000.000 | Rp9.183.477 |
| 5 | Rp10.000.000 | Rp8.676.513 |
| 10 | Rp10.000.000 | Rp7.528.188 |
| 20 | Rp10.000.000 | Rp5.667.361 |
Ini hanya ilustrasi. Tingkat inflasi sebenarnya dapat berubah dari tahun ke tahun, tapi polanya tetap sama: makin lama dana mengendap tanpa pertumbuhan, makin besar daya beli yang hilang.
Inflasi Setiap Orang Tidak Selalu Sama
Angka inflasi nasional adalah rata-rata. BPS menghitungnya berdasarkan perubahan harga berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari makanan, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, hingga pendidikan. (BPS)
Tapi pola pengeluaran setiap orang berbeda. Orang tua mungkin lebih merasakan kenaikan biaya sekolah. Anak muda yang tinggal sendiri bisa lebih terdampak harga sewa dan makanan. Pekerja yang bepergian setiap hari mungkin paling merasakan perubahan biaya transportasi. Karena itu, inflasi 2,88% belum tentu sama dengan kenaikan biaya hidup yang kita alami secara pribadi.
Untuk melihat dampaknya sendiri, bandingkan catatan pengeluaran tahun lalu dengan sekarang: biaya makan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan rutin lainnya. Dari situ terlihat apakah biaya hidup pribadi naik lebih cepat atau lebih lambat dari inflasi nasional.
Bisakah Kripto Membantu Menjaga Daya Beli?
Setelah kebutuhan rutin dan dana darurat terpenuhi, ada satu pertanyaan yang layak dipikirkan: apa yang sebaiknya dilakukan dengan uang yang belum akan dipakai dalam waktu dekat?
Membiarkan seluruhnya dalam bentuk tunai terlalu lama membuat daya belinya perlahan tergerus inflasi, seperti simulasi di atas. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan untuk sebagian dana jangka panjang adalah aset kripto, meski bukan satu-satunya dan bukan tanpa risiko.
Uang tunai pada dasarnya berfungsi sebagai alat pembayaran dan penyimpan likuiditas, bukan untuk menghasilkan pertumbuhan. Aset kripto punya potensi kenaikan nilai, tapi disertai risiko yang jauh lebih tinggi. Beberapa aset kripto juga punya pasokan yang dibatasi oleh sistemnya. Bitcoin, misalnya, dirancang dengan batas maksimum 21 juta unit, karakter yang jadi salah satu alasan sebagian investor menempatkannya dalam strategi penyimpanan aset jangka panjang. Kaitan antara nilai mata uang dan daya beli kami bahas lebih lengkap di uang fiat dan apa itu devaluasi.
Tapi pasokan terbatas tidak membuat harga Bitcoin selalu naik. Nilainya tetap dipengaruhi permintaan pasar dan bisa bergerak tajam dalam waktu singkat. Karena itu, kripto lebih tepat dipandang sebagai aset dengan potensi pertumbuhan, bukan tempat menyimpan uang yang bebas risiko.
Tempat Uang Bekerja Berdasarkan Tujuannya
Setiap bagian dari uang punya pekerjaan berbeda. Tabel ini membantu memetakan mana yang cocok untuk kebutuhan sehari-hari, dan mana yang bisa dipertimbangkan untuk dana jangka panjang.
| Jenis Dana | Contoh Instrumen | Likuiditas | Potensi Menang dari Inflasi | Volatilitas |
|---|---|---|---|---|
| Kebutuhan harian | Rekening tabungan, e-wallet | Sangat tinggi | Rendah, biasanya kalah dari inflasi | Sangat rendah |
| Dana darurat | Tabungan, deposito jangka pendek | Tinggi | Rendah sampai sedang | Rendah |
| Dana jangka menengah-panjang | Instrumen berbunga seperti Flexi Earn | Sedang sampai tinggi | Sedang | Rendah sampai sedang |
| Dana jangka panjang, siap menanggung risiko | Aset kripto, Dual Investment | Bervariasi | Berpotensi tinggi, tidak dijamin | Tinggi |
Dana untuk kebutuhan sehari-hari dan keadaan darurat sebaiknya tetap berada dalam bentuk yang likuid dan mudah diakses. Sementara itu, sebagian dana yang belum akan digunakan dalam waktu dekat bisa dialokasikan secara bertahap ke aset kripto, kalau tujuan investasinya jelas, jangka waktunya memadai, dan risikonya sudah dipahami. Kerangka menyusun alokasi semacam ini kami bahas di portofolio kripto pemula.
Tujuannya bukan memindahkan seluruh saldo ke kripto. Uang tunai menjaga kebutuhan hari ini, sedangkan aset dengan potensi pertumbuhan memberi sebagian dana kesempatan untuk bekerja bagi kebutuhan masa depan.
FAQ
Kenapa uang yang disimpan saja bisa kehilangan nilai padahal jumlahnya tidak berkurang?
Karena nilai uang diukur dari daya belinya, bukan dari angkanya. Kalau harga barang naik 2,88% per tahun sementara uangmu tidak bertambah, jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang itu berkurang secara bertahap meski nominalnya tetap sama.
Berapa lama sebelum inflasi benar-benar terasa dampaknya?
Dalam setahun dampaknya biasanya masih kecil, tapi terus terakumulasi. Pada inflasi 2,88% per tahun, daya beli Rp10 juta turun jadi sekitar Rp8,68 juta dalam lima tahun dan Rp7,53 juta dalam sepuluh tahun, dihitung dalam nilai hari ini.
Apakah semua dana harus dipindahkan ke aset yang berpotensi tumbuh?
Tidak. Dana untuk kebutuhan harian dan dana darurat tetap harus likuid dan mudah diakses. Yang perlu dipikirkan ulang hanya dana jangka panjang yang tidak akan dipakai dalam waktu dekat dan selama ini dibiarkan mengendap tanpa tujuan jelas.
Apakah kripto pasti bisa mengalahkan inflasi?
Tidak ada jaminan. Kripto punya potensi kenaikan nilai, tapi harganya juga bisa turun tajam dalam waktu singkat. Kripto lebih tepat dipandang sebagai aset dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, bukan instrumen bebas risiko yang pasti mengalahkan inflasi.
Berapa persen dana idealnya dialokasikan ke kripto?
Tidak ada angka baku yang berlaku untuk semua orang, karena tergantung profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu masing-masing. Prinsip dasarnya, hanya gunakan dana yang benar-benar tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, dan mulai bertahap sambil memahami risikonya.
Manfaatkan Peluang Ini di Mobee
Mobee adalah Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi OJK, dengan badan hukum PT CTXG Indonesia Berkarya. Beberapa langkah yang bisa kamu ambil untuk mulai mengalokasikan sebagian dana jangka panjang:
- Mulai dari Bitcoin dengan pecahan kecil dan pahami dulu risikonya lewat tips trading crypto.
- Cek imbal hasil terkini di halaman produk Earn kalau ingin dana bekerja dengan volatilitas yang relatif lebih terkendali dibanding trading langsung.
- Simpan asetmu dengan aman dengan panduan di wallet crypto terbaik, dan pelajari cara membaca pasar di cara menganalisis crypto.
Deposit rupiah bisa lewat QRIS, transfer bank, maupun virtual account, dengan panduan lengkapnya di Tutorial Mobee.
Disclaimer. Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Aset kripto memiliki risiko tinggi dan volatilitas harga. Seluruh simulasi daya beli bersifat ilustratif berdasarkan asumsi inflasi tetap, bukan proyeksi resmi. Pelajari produk, biaya, serta risikonya sebelum mengambil keputusan keuangan.



